Alternative flash content

Requirements

Get Adobe Flash player

Didi Petet: Akting itu Melihat, Mendengar dan Merasakan

 

Perkembangan perfilman di Tanah Air semakin menggembirakan. Film-film baru dari beragam genre terus bermunculan. Bahkan, teknologi yang dipakai insan perfilman Indonesia tak kalah dengan di mancanegara. Sayangnya, prestasi itu belum

diimbangi dengan kualitas cerita dan interaksi para aktor dengan penonton. Keprihatinan itu disampaikan aktor senior Dedi Petet saat ditemui metrotvnews.com beberapa saat lalu.

 

"Kalau soal perkembangan pembuatan cerita, saat cerita itu disampaikan kembali, dan interaksi pada penonton masih belum banyak orang yang berani. Padahal, itu bisa membuat film yang baik," ungkap Didi Petet.

Indonesia, kata Didi, memiliki banyak aktor dan aktris berkualitas. Tapi potensi melimpah itu terkadang terbentur kecenderungan para produser 'bermain aman' dengan menawarkan peran yang itu-itu saja. Padahal, berbagai peran dengan karakter berbeda merupakan tantangan yang wajib dijajal agar para aktor dan aktris semakin matang bermain peran.

Dari sisi keaktoran, kata Didi, seseorang harus diberikan berbagai macam peran. Pelbagai peran itu akan memacu yang bersangkutan lebih kreatif. "Jadi, pemain bisa mengembangkan dirinya," jelas aktor kelahiran Surabaya, 12 Juni 1956, itu. Kondisi itu belum berkembang di Indonesia. Produser tak berani.

 

 

Apabila produser berani menawarkan aneka peran berbeda kepada aktor/aktris, kata Didi, kondisinya akan lain. Sejauh ini, produser ingin menekan anggaran. Agar anggaran tak membengkak, dan bisa kembali, produser tidak mau berspekulasi. "Pemahaman itu belum sinkron," kata Didi.

Bagi Didi menjadi aktor bukan perkara mudah. Akting itu seni belajar dari kehidupan yang bersifat terus-menerus. Berakting berarti mensinergikan diri dan lingkungan sekitar dengan melihat, mendengar, dan merasakan. Ketiga hal itu yang harus diresapi setiap aktor untuk dimunculkan dalam peran.

Seperti galibnya pemain piano yang harus mahir memainkan instrumen, berakting juga menuntut seseorang memainkan instrumen tubuhnya dengan optimal. Bakat dan kontinuitas latihan sama-sama penting, dan saling melengkapi.

"Seorang aktor riset 24 jam tiap hari untuk menghasilkan karya terbaik. Saat ia memainkan peran, ingatan tadi bisa dimunculkan. Seperti kita menyimpan beberapa karakter, dia harus mampu mengomunikasikan itu pada penonton. Dia harus punya daya ingat yang baik," ujarnya.

Menurut pemeran Emon dalam film Catatan Si Boy ini, riset karakter hal yang mutlak dilakukan mereka yang berkecimpung di dunia seni peran. Agar perannya hidup, para aktor dan aktris harus tahu siapa yang diperankannya. Mereka wajib mempelajari karakter yang ia mainkan, bagaimana latar belakang budaya, ekonomi, sosial, pendidikan, dan yang lain.

"Kemudian, ia juga harus tahu tujuan peran dalam film itu. Kalau ia tahu tujuan peran itu mau jadi apa, biasanya seni peran bisa hidup," kata Didi.

Berakting, kata Didi, ibarat hidup di balik pribadi yang bukan diri sendiri. Seseorang harus senang berada di balik pribadi orang lain agar peran yang dilakoni bisa hidup. Karena yang dinikmati penonton bukan sosok aktor itu secara pribadi, tapi peran yang dimainkan oleh sang aktor.

Agar berhasil, Aktor Pembantu Terbaik FFI 1988 itu menyarankan seseorang harus menekan egonya. "Yang harus disadari, senang nggak dia di situ? Kalau dia lebih mengekspose 'ini gue', peran itu nggak akan muncul, ego-nya yang muncul. Itu yang salah," Didi memberi resep.

Sebagai orang yang sudah lama malang-melintang di dunia perfilman, Didi mengingatkan, seni peran bukan lahan yang tepat jika hanya dipakai mendaki kepopuleran dan materi. Untuk dapat bertahan lama di dunia seni peran harus benar-benar mencintai profesi dan dunia seni peran itu sendiri. Jika hanya berorientasi pada kepopuleran dan materi tanpa benar-benar mencintai dan menikmati berkarya di seni peran, seorang aktor akan gampang tergantikan dan bahkan dilupakan.

"Konsekuensinya memang terkenal, tapi jangan cari terkenal. Kalau cari terkenal, egonya yang muncul. Kalau egonya muncul, ketika nggak terkenal mau jadi apa? Cari sensasi, ini-itu, segala macam? Seni peran bukan itu, seni peran harus ada di balik peran dan menjiwai karakter perannya," jelas Didi. (******)

 

Sumber :  http://metrotvnews.com/

 

 

000136298
Hari iniHari ini332
KemarinKemarin516
Minggu iniMinggu ini4405
Bulan iniBulan ini332
TotalTotal136298